Do’a Asma kepada anaknya Abdullah bin Zubair
Tatkala Abdullah bin Zubair diangkat menjadi khalifah setelah khalifah Yazid bin Muawiyah meninggal, negeri-negeri Hijaz, Mesir, Iraq, Khurasan dan sebagian besar negeri Syam tunduk ke bawah pemerintahannya. Tapi Bani Umayyah tidak tinggal diam menyiapkan tentara yang besar dibawah pimpinan panglima Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqofi untuk menggulingkan khalifah. Abdullah bin Zubair turun ke medan tempur memimpin sendiri tentara yang setia kepadanya. Dia memperlihatkan kebolehannya sebagai panglima perang yang gagah berani dengan taktik dan strategi perang yang brillian.
Tetapi para perwira bawahan dan prajuritnya banyak yang meninggalkannya satu demi satu, membelot ke pihak musuh. Akhirnya dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit dia mundur dibawah naungan Ka’bah yang suci dan agung. Beberapa saat sebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubair pergi menemui ibundanya yang sudah lanjut usia dan mengundurkan diri dari kegiatan masyarakat umum dan matanya sudah buta.
“Assalamu’alaiki wa rahmatullahi wabarakatuhu, ya ummah !” kata Abdullah memberi salam kepada ibunya.
“Wa’alaikassalam wa rahmatullahi wabarakatuhu.. ya Abdullah..!
“Mengapa engkau datang kesini pada waktu begini.. ? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tentara mu menggetarkan seluruh kota Makkah.” Kata ibunya..
“Aku datang hendak bermusyawarah dengan ibu,” jawab Abdullah dengan hormat.
“Tentang masalah apa ?” tanya ibunya khawatir.
“Tentaraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot kepadaku daripada pihak musuh. Mungkin mereka takut kepada pihak Hajjaj atau bisa juga mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya, sehingga anak-anak dan istriku pun berpisah denganku. Sedikit sekali jumlah tentara yang tinggal bersamaku. Mereka itupun agaknya tidak akan sabar bertahan lebih lama denganku. Sementara itu, para utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang kuminta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan menjadi Khalifah. Bagaimana pendapat ibu?” tanya Abdullah.
Asma menjawab dengan suara tinggi, “Terserah kepadamu ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang tahu dengan dirimu? Bila engkau yakin bahwa engkau mempertahankan yang hak dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkan dirimu seperti para prajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan benderamu..! Tetapi bila engkau seorang laki-laki pengecut, berarti engkau mencelakakan diri sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, nak..!”
Abdullah menundukkan kepala di hadapan ibunya yang kelihatan marah bercampur berbagai perasaan yang tak pasti wujudnya. Walaupun ibunya sudah tua dan buta, Abdullah yang merupakan khalifah yang gagah berani tidak sanggup melihat wajah ibunya, karena sangat hormat dan kasih kepadanya.
“Tetapi aku akan terbunuh hari ini bu..?” kata Abdullah dengan lembut.
“Itu lebih baik bagimu dari pada engkau menyerahkan diri kepada Hajjaj. Akhirnya toh kepalamu akan diinjak-injak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sulit dipercaya,” jawab ibunya tegas dengan nada tinggi.
“Aku tidak takut mati bu..! tetapi aku khawatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam.., kata Abdullah lagi.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, perbuatan orang yang hidup sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang,” kata ibunya.
“Semoga ibu diberkati Allah. Begitu pula hendaknya buah pikiran ibu yang terang benderang. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah kudengar dari ibu. Allah Maha tahu aku tidak lemah dan aku tidak hina. Dia Maha tahu, aku tidak terpengaruh oleh dunia dan kemewahannya. Murka Allah bagi orang-orang yang menyepelekan segala yang diharamkan-Nya. Inilah aku, anak ibu..! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat ibu. Apabila aku tewas, janganlah ibu menangisiku.. Segala urusan kehidupan ibu, serahkan kepada Allah..!” kata Abdullah menguatkan hati ibunya.
“Yang ibu khawatirkan kalau-kalau engkau tewas di jalan yang sesat,” kata Asma memperlihatkan keteguhan imannya.
“Percayalah ibu..! Anak ibu tidak memiliki pikiran sesat untuk berbuat keji. Anak ibu tidak percaya untuk menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang-orang muslim yang baik atau melakukan kejahatan-kejahatan lain. Anak ibu mengutamakan keridhoan Allah Azza wa Jalla dan keridhoan ibu. Aku katakan semua ini dihadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Allah ta’ala menanamkan kesabaran yang dalam di hati sanubari ibu.”
Jawab Asma..” Alhamdulillah..! segala puji bagi Allah yang telah membuat engkau teguh memegang apa yang disukai-Nya dan yang ibu sukai pula. Mendekatlah kepada ibu, anakku..! ibu ingin mencium bau mu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir bagi ibu untuk menciummu..”
Abdullah menjatuhkan diri kedalam pangkuan ibunya. Hidung Asma beranjak dari kepala, muka dan ke tengkuk Abdullah. Tangannya menyentuh tubuh Abdullah.., tetapi tiba-tiba Asma menarik kembali tangannya seraya bertanya.. “Apa yang engkau pakai, hai Abdullah..?”
“Baju besi..!” jawab Abdullah
“Untuk apakah pakaian seperti ini dipakai oleh orang yang ingin mati syahid..?” tanya Asma
“Aku memakainya untuk menyenangkan hati ibu..” jawab Abdullah
“Tanggalkan baju besi itu..! tanpa baju besi engkau lebih memperlihatkan semangat yang tinggi dan keperkasaan. Disamping itu engkau dapat bergerak dengan leluasa, ringan dan lincah. Sebagai gantinya pakailah celana rangkap. Seandainya engkau tewas, auratmu tidak mudah terbuka..” kata ibunya dengan penuh kasih sayang.
Abdullah melepas baju besinya, kemudian memakai celana rangkap. Sesudah itu dia pergi ke Masjidil Haram meneruskan pertempuran sambil berpesan kepada ibunya.. “Jangan bosan mendo’akanku, ibu..!”
Asma kemudian menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata.. “Wahai Allah ..! kasihanilah dia karena shalatnya yang panjang diselingi tangis penuh di tengah malam buta, ketika orang-orang lain sedang tidur nyenyak. Duhai Allah..! kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan haus ketika bertugas jauh dari Madinah atau Makkah dalam menunaikan ibadah puasa karena-Mu. Duhai Allah..! kasihanilah dia yang selalu berbuat kebaikan dan menuntut kasih sayangnya, terhadap ibu dan bapaknya. Duhai Allah..! aku serahkan dia kedalam pemeliharaan-Mu dan aku ridho dengan apa yang telah Engkau tetapkan baginya dan berilah aku pahala orang-orang yang sabar..!”
Sebelum matahari tenggelam di sore hari itu, Abdullah bin Zubair syahid menuju Rabbnya. Dia pulang ke rahmat Allah dengan mengutamakan ridho-Nya. Kurang lebih tujuh belas hari setelah kematian puteranya, Asma wafat pula menyusul putra tercintanya. Asma binti Abu Bakar Ash Shiddiq pulang ke rahmatullah dalam usia seratus tahun. Walaupun usinya sudah lanjut, namun giginya masih utuh semuanya, tidak ada yang tanggal satupun. Daya pikirnya pun tetap kuat dan prima. Begitu pula dengan imannya. Semoga Allah meridhoi kedua hamba-Nya, Asma dan putranya Abdullah bin Zubair.
Wallahua'lam Bish-showab
Sabtu, 02 April 2011
Rabu, 24 November 2010
kehadiranmu tak ku harapkan lagi..............!!!
for you 09 Maret.........
hari berganti hari,,
bulan berganti bulan..
seiring berjalannya waktu n kesendirian ini.
anna ingiiin merasakan kedamaian seperti yg dulu...
damai saat Rukuk,,,
damai saat sujud,,,
damai saat tilawah,,
damai.... damai... dan damai...(tak bisa diungkapkan)
setelah datang dikota ini...
yach......... kota ini,,,
awalnya anna harapkan kota ini kan menjadi kota sejarah
perjuanganku di jalan dakwah bareng tmn2. ternyata sebaliknya.
andai kota ini kan tetap menjadi kota sejarah dakwahku bareng teman2.
Tolooong jauhi kehidupan ku........
karena kita berbeda....... >,<
Pola Pikir menghasilkan POLA SIKAP
Ya Raabb... andai semuanya tak layak...
gantikanlah yang layak dan mendamaikan hati
dengan pola pikir n pola sikap yang sama..
karena anna takut menjadi "SAMPAH" sejarah dalam dakwah ini >,<
hari berganti hari,,
bulan berganti bulan..
seiring berjalannya waktu n kesendirian ini.
anna ingiiin merasakan kedamaian seperti yg dulu...
damai saat Rukuk,,,
damai saat sujud,,,
damai saat tilawah,,
damai.... damai... dan damai...(tak bisa diungkapkan)
setelah datang dikota ini...
yach......... kota ini,,,
awalnya anna harapkan kota ini kan menjadi kota sejarah
perjuanganku di jalan dakwah bareng tmn2. ternyata sebaliknya.
andai kota ini kan tetap menjadi kota sejarah dakwahku bareng teman2.
Tolooong jauhi kehidupan ku........
karena kita berbeda....... >,<
Pola Pikir menghasilkan POLA SIKAP
Ya Raabb... andai semuanya tak layak...
gantikanlah yang layak dan mendamaikan hati
dengan pola pikir n pola sikap yang sama..
karena anna takut menjadi "SAMPAH" sejarah dalam dakwah ini >,<
Minggu, 14 November 2010
Untukmu
Bagitu banyak cerita yang terkadang langsung membetik hati kita tuk sadar,,sungguh cepat betikan itu. Kecepatannyapun mampu membuka mata dan hatiku
aku luluh dengan kesadaranku bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan. aku mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang mengantarkan dosa dan egopun menjeratku pada lingkar hitam kedurjanaan. aku tau itu..
Namun sayang,,terkadang kesalahan yang aku lakukan tidak terasa oleh jati diriku, maka tak jarang bertubi-tubi nasehat dan saran dari kawan yang menyerbuku mental dan tak dapatku terima, nasehat koreksi atas diriku pun terpelanting jauh mencoba mencari beribu-ribu alasan hanya untuk suatu pembenaran yang kiranya pembenaran itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Saudaraku,,begitu banyak kisah hidup ini yang harus kita renungi, terlebih lagi tuk hari ini.
Memang lebih mudah untuk ngomong memberikan wacana dan informasi ketimbang melakukan amal perbuatan, padahal sebenarnya usaha ngomong dalam rangka menasehati itu dalam rangka untuk menggerakkan tekad agar aku mau tuk berubah, “YA” untuk beramal perbuatan terikat dengan hukum Syara.
Aku coba menghela nafas,,,
tahun ini, bulan ini, minggu ini, dan hari ini,,,Allah terlalu sering memperingatkan diri kita. Terlalu sering menegur kita.
Dari hal kecil, namun kita tak mengerti makna tersirat Allah memperingatkan kita, sampai musibah MERAPI yang bisa kita indra saat inipun, banyak yang tak sadar bahwa ini bukti Allah menegur kita secara langsung. Begitu hebat Allah menunjukan langsung teguran-NYA dalam buaian bencana-bencana alam yang kita tonton di liputan media, ya ini semua bisa kita fikirkan bagi manusia yang punya AKAL.
Ya Robb kami sadar bahwa kami lemah, kami hanya hamba yang memiliki keterbatasan. Jika Allah menghendaki maka terjadilah. Jika kita mampu dan mau merubah diri kita, merubah tuk lebih mendekatkan diri kepada Allah niscaya halangan dan rintangan yang menghalangi diri untuk mendekatkan diri kepada Allah akan terlampaui. Bahkan yakinlah bahwa ketika kita menolong agama Allah niscaya Allahpun akan menolong kita. Sekarang saatnya menyemangatkan lagi nafsu kita untuk memeluk dan merindu berteduh di Syurga. Semoga bencana ini mampu membuka telinga, mata, hati dan laku kita untuk kembali kepada hukum Allah aturan hakiki dalam bingkai Syariah.
Instropeski diri, instrospeksi bersama, kita lemah,, namun kekuatan itu akan selalu ada ketika kita MAU dan MAMPU melakukan, meraih dan bergerak, berAZZAM tuk kemuliaan dunia dan akherat hanya dengan belajar ISLAM dan mengajarkan ISLAM. Terus bergerak, karena berproses bukan berarti diam..
aku luluh dengan kesadaranku bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan. aku mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang mengantarkan dosa dan egopun menjeratku pada lingkar hitam kedurjanaan. aku tau itu..
Namun sayang,,terkadang kesalahan yang aku lakukan tidak terasa oleh jati diriku, maka tak jarang bertubi-tubi nasehat dan saran dari kawan yang menyerbuku mental dan tak dapatku terima, nasehat koreksi atas diriku pun terpelanting jauh mencoba mencari beribu-ribu alasan hanya untuk suatu pembenaran yang kiranya pembenaran itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Saudaraku,,begitu banyak kisah hidup ini yang harus kita renungi, terlebih lagi tuk hari ini.
Memang lebih mudah untuk ngomong memberikan wacana dan informasi ketimbang melakukan amal perbuatan, padahal sebenarnya usaha ngomong dalam rangka menasehati itu dalam rangka untuk menggerakkan tekad agar aku mau tuk berubah, “YA” untuk beramal perbuatan terikat dengan hukum Syara.
Aku coba menghela nafas,,,
tahun ini, bulan ini, minggu ini, dan hari ini,,,Allah terlalu sering memperingatkan diri kita. Terlalu sering menegur kita.
Dari hal kecil, namun kita tak mengerti makna tersirat Allah memperingatkan kita, sampai musibah MERAPI yang bisa kita indra saat inipun, banyak yang tak sadar bahwa ini bukti Allah menegur kita secara langsung. Begitu hebat Allah menunjukan langsung teguran-NYA dalam buaian bencana-bencana alam yang kita tonton di liputan media, ya ini semua bisa kita fikirkan bagi manusia yang punya AKAL.
Ya Robb kami sadar bahwa kami lemah, kami hanya hamba yang memiliki keterbatasan. Jika Allah menghendaki maka terjadilah. Jika kita mampu dan mau merubah diri kita, merubah tuk lebih mendekatkan diri kepada Allah niscaya halangan dan rintangan yang menghalangi diri untuk mendekatkan diri kepada Allah akan terlampaui. Bahkan yakinlah bahwa ketika kita menolong agama Allah niscaya Allahpun akan menolong kita. Sekarang saatnya menyemangatkan lagi nafsu kita untuk memeluk dan merindu berteduh di Syurga. Semoga bencana ini mampu membuka telinga, mata, hati dan laku kita untuk kembali kepada hukum Allah aturan hakiki dalam bingkai Syariah.
Instropeski diri, instrospeksi bersama, kita lemah,, namun kekuatan itu akan selalu ada ketika kita MAU dan MAMPU melakukan, meraih dan bergerak, berAZZAM tuk kemuliaan dunia dan akherat hanya dengan belajar ISLAM dan mengajarkan ISLAM. Terus bergerak, karena berproses bukan berarti diam..
Sabtu, 09 Oktober 2010
GALAU......

berawal dari 07 oktober 2009,,, hati ini mulai diuji....!!
sampai dengan sekarang....!!!
siapapun orang yang punya masalah ketika dihadapkan dengan orang tua pastinya kalah. ma2,, bukti kecintaan anakmu ni... belum seberapa,,, DIA....DIA...DIA.... mengapa harus DIA...??? hati ni INGIN menjerit... namun tak bisa,,4jam tetesan air mata tak berhenti terus mengalir. andai dari AWAL anna berani katakan TIDAK untuk semua sandiwara ini. pastinya malam ini sujudku padaMU ya RABB lebih tenang... :'(
H
E
R
Y
O
U .............
anna ingiiiin katakan SUDAHLAAAAAAAh..............................
anna ingin berhenti dari sandiwara yang kau awali.................
tarik ulurnya cerita ini,,, membuat aktifitasQ tak KONSEN.........
Langganan:
Postingan (Atom)