" SERAHKAN BARANG KEPADA PEMILIKNYA "
Saudaraku kaum muslimin serta para Aktivis Islam yang senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah Swt, sesungguhnya Anda telah menjual jiwa Anda kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, anda tidak mempunyai pilihan lain harus menyerahkan barang kepada pembelinya.
Allah Swt berfirman:
“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka (yang dibayar) dengan surge untuk mereka” (TQS. At-Taubah : 111)
Jika Allah telah menerima ‘barang’ yang Dia ‘beli’, yaitu diri kita, tentu Dia bebas memperlakukan kita semau-Nya dan meletakkan diri kita ditempat yang Dia sukai. Allah sah-sah saja menempatkan diri kita di istana atau dipenjara, atau memakaikan ‘baju’ mewah pada diri kita, atau membuat diri kita nyaris ‘telanjang’, kecuali aurat kita, atau menjadikan diri kita kaya ataupun miskin, atau menjadikan diri kita berumur panjang, atau membuat kita mati ditiang gantungan, ditangkap musuh lalu dibunuh atau dicincang.
Pantaskah penjual kambing marah, atau hatinya berubah kepada pembeli kambing saat pembeli kambing itu menyembelih kambing yang dibelinya? Tidakkah anda mendengar tentang apa yang telah terjadi pada Singa Allah dan Singa Rasul-Nya, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib ra.? Perutnya dibelah, hatinya dikeluarkan, iapun dicincang (HR Ahmad, dari penuturan Ibn Mas’ud, dalam Musnad Ahmad, I/463).
Demikian pula para Sahabat Nabi saw. Yang gugur sebagai syuhada dimedan Perang Uhud; mereka diperlakukan oleh orang-orang kafir seperti itu , perut mereka dibelah, telinga dan hidung mereka dipotong-potong, bahkan Hindun binti Utbah dan wanita-wanita Quraisy menjadikan hidung dan telinga para Sahabat sebagai gelang kaki dan tangan mereka. Hindun binti Utbah lalu menghadiahkan gelang kaki, gelang tangan dan anting-antingnya kepada budak bernama Wahsyi, sang pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, sebagai imbalan atas prestasinya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. (HR. Ibnu Ishaq, dari penuturan Shalih bin Kisan, dalam Sirah Ibn Hisyam, II/91)
Bahkan tidakkah anda mendengar apa yang telah terjadi pada Rasulullah Saw., juga dalam perang uhud? Saat itu wajah Beliau terluka dan gigi antara gigi seri dan gigi taring Beliau rontok (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibn Majah; dari penuturan Anas bin Malik). Bahkan Beliau hidup dalam cobaan demi cobaan yang bertubi-tubi. Sungguh benar Ibnu al-Jauzi saat berkata, “Bukankah Rasulullah saw. layak berkata, ‘Siapa yang melindungiku? Siapa yang menolongku?’ beliau perlu masuk ke Makkah dalam perlindungan orang kafir dan meletakkan senjata. Para Sahabat Beliau dibunuh, Para Sahabat Beliau yang baru masuk Islam dirayu oleh pihak lain sedemikian rupa agar keluar dari Islam, lalu beliau sendiri mengalami kelaparan. Namun beliau tetap tegar dan tidak tergoyahkan, beliau sering diuji dengan kelaparan hingga beliau mengikatkan batu di perut-perut Beliau, padahal kekayaan dilangit dan dibumi Allah.
Para Sahabat Beliau dibunuh, wajah Beliau terluka, gigi antara gigi seri dan gigi taring beliau tercabut. Paman Beliau dari jalur ayah dicincang. Namun beliau diam dan tidak bereaksi apa-apa. Beliau dianugerahi anak laki-laki, tetapi ia meninggal dunia tidak lama setelah itu. Beliau dianugerahi Hasan dan Husain, lalu Beliau diberitahu Allah bahwa keduanya kelak dibunuh. Beliau merasa sakit luar biasa saat nyawa tercabut, saat itu Beliau terbaring diatas kain using dan sarung kasar, tanpa penerang lampu.” (Ibn al-Jauzi, Shayd al-Khathir, 257-261)
Karena itulah Saudaraku yang dimuliakan Allah, renungkanlah kisah para Nabi dan para Rasul yang notabene merupakan makhluk pilihan Allah yang paling Allah Muliakan dan Allah cintai. Nabi Ibrahim as. di lemparkan di dalam api, Nabi Zakaria as digergaji, Nabi Yahya as disembelih, Nabi Ayub as didera ujian selama bertahun-tahun hingga kehilangan harta dan anak-anaknya, Nabi Yunus as dipenjara didalam perut ikan hiu, Nabi Yusuf as dijual dengan harga murah dan dibui beberapa tahun. Dalam menghadapi itu semua, mereka ridha dengan Allah SWT dan Takdir-Nya.
Salah seorang generasi salaf pernah berkata, “Seandainya tubuhku digergaji dengan banyak gergaji, hal itu lebih aku sukai daripada aku mengatakan tentang sesuatu yang telah menjadi qadha’ (ketetapan) Allah, ‘Kalau saja hal itu tidak terjadi.’
Yang lain berkata, “Aku telah berbuat suatu dosa yang aku tangisi selama tiga puluh tahun.” Padahal orang tersebut rajin beribadah. Ia lalu ditanya, “Dosa apa itu?” Orang itu berkata, “Suatu ketika aku berkata tentang sesuatu yang telah terjadi, “Ah, kalau saja sesuatu itu tidak terjadi.”
Karena itu, Saudaraku, jadilah Anda seperti mereka. Mereka tiada pernah membernturkan manajemen mereka dengan manajemen Allah Swt. Mereka tidak melakukan intervensi terhadap manajemen Allah SWT dalam kerajaan-Nya dengan berkata, “Seandainya saja demikian, pasti hasilnya demikian,” atau berkata, “Ah, kalau saja hal itu tidak terjadi.”
Pilihan Allah SWT bagi hamba-Nya yang Mukmin adalah pilihan paling Agung dan terbaik meskipun sekilas tampak sulit atau susah; atau menghabiskan harta serta menghilangkan jabatan, keluarga, anak-anak, bahkan dunia seisinya.
Cobalah Anda memutar kembali ingatan anda pada kisah Perang Badar dan pikirkanlah Perang Badar dengan baik. Saat itu sebagian Sahabat lebih senang menghadapi kafilah dagang, Namun, Allah SWT member mereka pilihan yang lebih agung dan lebih baik dari pilihan mereka. Ya, Allah SWT memilihkan untuk mereka pasukan Quraisy untuk mereka hadapi. Tentu ada perbedaan besar diantara kedua pilihan itu. Seperti satu bintang dengan bintang lainya. Apa saja yang ada dalam kafilah dagang Quraisy? Didalamnya ada makanan yang biasa dimakan, lalu dibuang ditempat kotoran; ada juga pakaian yang biasa dipakai lalu berubah using, kemudian dicampakkan dari dunia yang fana.
Adapun pasukan Quraisy, didalamnya terdapat garis pembeda (demakrasi). Didalamnya Allah Swt membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Disana ada kekalahan bagi kemusyrikan dan kemenangan bagi tauhid. Disana ada pembunuhan gembong-gembong kaum musyrik, yang menjadi batu sandungan dihadapan Islam. Itulah agama baru disemenanjung Arab. Demikian seterusnya, lebih dari itu didalamnya Allah mengamati para mujahid Perang Badar, lalu berfirman, “ Lakukanlah apa saja yang kalian kehendaki karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian,” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim. )
Mahabenar Allah Swt yang berfirman:
“ Ingatlah ketika Allah menjanjikan kalian bahwa salah satu dari dua golongan itu untuk kalian, sedangkan kalian menginginkan (golongan) yang tidak mempunyai kekuatan senjata untuk kalian, sementara Allah berkehendak untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan Memusnahkan orang-orang kafir (QS. Al-Anfal : 7)
Juga mari kita lihat ucapan indah Ibnu al-Qayyim rahimahullah yang ia tulis dalam buku Zad al-Ma’ad, namun dengan sedikit perubahan redaksi bahasa:
Allah tidak memberi Anda susuatu bukanlah karena Dia pelit, atau karena takut khazanah kekayaan-Nya berkurang, atau karena Dia hendak menyembunyikan apa yang menjadi hak anda. Dia sengaja tidak memberi anda sesuatu untuk mengembalikan Anda kepada-Nya; memuliakan anda dengan merendahkan diri kepada-Nya; membuat anda kaya dengan menjadikan anda membutuhkan-Nya; memaksa anda untuk bersimpuh didepan-Nya; membuat anda merasakan manisnya sikap merendahkan diri kepada-Nya dan lezatnya sikap merasa butuh kepada-Nya; memakaikan pakaian ubudiyah kepada anda; menempatkan anda dengan membawa anda ketingkat para wali termulia; serta memperlihatkan kepada anda kebijaksanaan-Nya dalam kekuasaan-Nya, rahmat-Nya dalam kemuliaan-Nya dan kebaikan-Nya dalam kekuatan-Nya. Jika Allah tidak memberi sesuatu maka itu secara tidak langsung merupakan pemberian. Jika Allah mengisolasi hamba-Nya, itu berarti Dia sedang mendidiknya.
Jika Dia mengujinya, itu merupakan nikmat dan bukti. Jika Dia membuat anda dikuasai musuh, itu berarti Dia sedang menggiring orang kepada Anda.
Siapa yang tidak memahami makna agung ini dengan kalbu dan akalnya serta tidak mengamalkannya, ia tidak layak menerima pemberian dan tidak mempunyai tempat untuk meletakkan pemberian ini. Siapa saja yang pergi tanpa membawa tas, ia akan pulang dengan tangan kosong dan ia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri.
Semoga Bermanfaat……………. ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar